Hukum Bayi Tabung

Hukum Bayi Tabung – Teknologi bayi tabung yakni bayi tabung yang dihasilkan dari sperma laki-laki dan ovum perempuan yang terikat dalam sebuah perkawinan (suami-istri) serta bayi tabung tersebut ditanamkan ke dalam rahim di istri. Hukum bayi tabung masih terdengar simpang siur, menurut salah satu ajaran agama (Islam) program bayi tabung dapat dikatakan haram, karena kehamilan dapat terjadi di luar rahim.

Dari beberapa jejak pendapat dari para alim ulama dan pemuka agama tentang program bayi tabung yang di halalkan dan diharamkan dalam hukum program bayi tabung menurut agama.

Hukum Bayi Tabung

Hukum Bayi Tabung

Ada 2 hal yang menyebutkan bahwa bayi tabung itu halal, yaitu:

1. Sperma tersebut diambil dari si suami dan indung telurnya diambil dari istrinya kemudian disemaikan dan dicangkokkan ke dalam rahim istrinya.

2. Sperma si suami diambil kemudian di suntikkan ke dalam saluran rahim istrinya atau langsung ke dalam rahim istrinya untuk disemaikan.

Hal tersebut dibolehkan asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan.

Namun sebaliknya, ada 5 hal yang membuat hukum bayi tabung menjadi haram yaitu:

1. Sperma yang diambil dari pihak laki-laki disemaikan kepada indung telur pihak wanita yang bukan istrinya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya.

2. Indung telur yang diambil dari pihak wanita disemaikan kepada sperma yang diambil dari pihak lelaki yang bukan suaminya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim si wanita.

3. Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari sepasang suami istri, kemudian dicangkokkan ke dalam rahim wanita lain yang bersedia mengandung persemaian benih mereka tersebut.

4. Sperma dan indung telur yang disemaikan berasal dari lelaki dan wanita lain kemudian dicangkokkan ke dalam rahim si istri.

5. Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari seorang suami dan istrinya, kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya yang lain.

Namun, para alim ulama tetap menetapkan fatwanya bahwa program bayi tabung dari pasangan suami-istri yang dititipkan di rahim perempuan hukumnya haram karena akan memberi dampak negatif di kemudian hari terkait masalah hak waris dsb.

Karena pandangan menurut islam, bahwa hukum bayi tabung merupakan masalah yang kontemporer ijtihadiah, karena tidak adanya suatu hukum yang sangat spesifik di dalam Al-Quran serta As-Sunnah atau dalam kajian fiqih sekalipun. Oleh sebab itulah perlunya pengkajian dan klarifikasi yang khusus mengenai hukum bayi tabung menurut islam dengan jelas. Sedangkan hukum bayi tabung menurut hukum perdata Indonesia adalah merupakan suatu permasalahan hukum dan juga suatu etis moral yang jika ditelusuri bahwa sperma atau sel telur yang berasal dari pasangan yang syah di dalam suatu hubngan pernikahan. Namun, hal ini menjadi masalah jika bahan dari pembuatan bayi tabung ini berasal dari orang yang sudah meninggal dunia. Hukum yang dipermasalahkan adalah beberapa hal dibawah ini :

  1. Bagaimana status dari si anak jika dilahirkan melalui proses bayi tabung atau proses inseminasi buatan?
  2. Bagaimanakah hubungan perdata dari bayi ini dengan orangtua biologisnya? Apakah ia mendapatkan hak warisnya?
  3. Bagaimanakah hubungan perdata dari bayi ini dengan surogate mother-nya (dalam kasus lain adalah terjadinya suatu penyewaan rahim) dan orangtua yang biologisnya). Serta darimanakah ia bisa mendapatkan hak mewarisnya?

Namun adalah beberapa tinjauan pada segi hukum perdata terhadap program hamil bayi tabung ini :

  1. Jika benih yang datang berasal langsung dari pasangan suami istri, maka akan dilakukan proses fertilisasi vitro transfer embrio dan kemudian diimplantasikan ke dalam rahim istri dan anak tersebut akan secara biologis atau juga secara yuridis mempunyai status yang syah dari pasangan ini.
  2. Namun jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim ibunya setelah ibunya bercerai dari pasanganya maka disaat anak itu lahir 300 hari sebelum hari perceraian, anak tersebut mempunyai status yang sah dari pasangan ini. Namun jika dilahirkan 300 hari setelah perceraian, maka anak tersebut bukan anak yang sah bekas suami ibunya dan juga tidak ada hubungan keperdataannya dengan bekas suaminya. Hukum ini tertulis jelas di Dasar hukum ps. 255 KUHPer
  3. Kemudian jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang mempunyai suami, maka dengan segi yuridis status anak itu adalah anak yang sah dari yang penghamil, bukan dari pasangan yang mempunyai benih. Hukum ini juga tertulis jelas di dasar hukum ps.42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. Dalam hal ini adalah suami dan istri penghamil bisa menyangkal anak tersebut merupakan anak yang sah melalui suatu tes golongan darah atau menjalani tes DNA
  4. Jika benihnya berasal dari donor, jika suaminya mandil dan istrinya subur maka melakukan bayi tabung dengan persetujuan pasangan tersebut. Kemudian sel telur akan dibuahi dengan sperma dari donor yang ada di dalam tabung petri dan kemudian jika terjadi pembuahan akan diimplantasikan ke dalam rahim istrinya. Anak yang lahir mempunyai status yag sah dan mempunyai hubungan untuk mewaris dan hubungan keperdataan selama si suamj tidak menyangkal dan juga melakukan tes DNA. Dasar hukum ini ada di dalam Dasar hukum ps.250 KUHPer.
  5. Dan jika embrio diimplantasikan ke dalam wahim wanita yang lainnya yang sudah brsuami maka anak yang lahir nanti merupakan anak yang sah dari pasangan penghamil tadi. Dasar Hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps.250 KUHPer
  6. Jika semua benihnya dari donor, maka jika sel sperma atau juga sel telurnya berasal dari prang yang terikat pada suatu hubngan pernikahan dan perkawinan, namu embrio yang diimplantasikan ke dalam rahim seorang wanita akan terikat dalam perkawinan dan anak yang lahir mempunyai status anak yang sah dari pasangan suami istri tadi karena sudah dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang sudah terikat dalam perkawinan yang sah
  7. Jika diimplantasikan dalam rahim seorang gadis, maka anak ini mempunyai status sebagai anak diluar kawin karena gadis ini tidak mempunyai suatu ikatan perkawinan yang sah dan secara biologis kecuali ika sel telur berasal darinya. Namun jika sel telur berasal darinya maka anak tersebut dengan secara biologis dan yuridis dianggap sebagai anaknya.

Hukum Bayi Tabung


=====================================

>>> Siapa yang tidak subur? Suami atau Istri? Ikuti Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Bayi Tabung and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>